ANALISIS
KALIMAT DAN KLAUSA BESERTA
FUTOR-FUTORNYA PADA BERITA KORAN YANG BERJURUL “KPK
HAT-TRICK TANGKAP GUBERNUR RIAU”,
JAWA POS 26 SEPTEMBER 2014
Disusun
guna melengkapi tugas matakuliah Sintaksis Bahasa Indonesia 1
oleh Dr. Asrumi, M. Hum
oleh Dr. Asrumi, M. Hum
Oleh:
Utami Retno Wulandari
130110201056
130110201056
JURUSAN
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
SASTRA
UNIVERSITAS
JEMBER
2015
Abstrak
Sinaksis
merupakan salah satu cabang ilmu kebahasaan yang didalamnya memuat tentang
kata, frasa, klausa, kalimat, hingga wacana. Frasa merupakan
salah satu ilmu sintaksis yang berisi gabungan dua kata atau lebih yang tidak
terdapat predikat didalamnya. Klausa adalah satuan gramatik yang memiliki
setidak-tidaknya subjek dan predikat didalamnya. Penerapan teori dengan
analisis data menyimulkan bahwa dalam data tersebut terdapat analisis frasa dan
kalusanya. Dalam analisis tersebut, klausa yang paling banyak muncul yakni
klausa terbuka, dan frasa yang paling banyak muncul yakni frasa intransitive.
(sintaksis, bahasa, Indonesia, frasa, klausa)
1.
PENDAHULUAN
Sinaksis
merupakann salah satu cabang ilmu kebahasaan yang didalamnya memuat tentang
kata, frasa, klausa, kalimat, hingga wacana.
Kata merupakan bagian terkecil dari sintaksis. Frasa merupakan salah satu ilmu
sintaksis yang berisi gabungan dua kata atau lebih yang tidak terdapat predikat
didalamnya. Klausa adalah satuan gramatik yang memiliki setidak-tidaknya subjek
dan predikat didalamnya. Kalimat merupakan satuan kebahasaan yang dalam
penulisannya terdapat sebuah aturan bahwa pada huruf pertama ditandai dengan
huruf kapital dan pada akhirnya ditandai dengan tanda titik. Wacana merupakan
gabungan dari beberapa kalimat atau lebih yang saling berhubungan isinya.
Pada
kesempatan kali ini, saya akan menganalitis bagian dari ilmu sintaksis tersebut.
Tidak semua bagiannya yang akan saya teliti. Saya
hanya meneliti tentang frasa dan klausanya saja. Bahan analisis yang saya ambil
yakni “Kpk Hat-Trick Tangkap Gubernur Riau”, Jawa Pos 26 September 2014. Data yang saya ambil
tidak berasal dari koran, namun dari website jawa pos. tidak semua beritanya
saya ambil, hanya paragraph pertama saja.
Pada makalah ini, poin-poin yang akan saya munculkan yakni tentang
pengertian frasa dan klausa beserta jenis-jenisnya,
2.
METODE
PENELITIAN
Metode penelitian merupakan sebuah metode atau cara-cara yang digunakan
dalam penelitian guna mendapat hasil penelitian yang di inginkan. Dalam bukunya
Sudaryanto, Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa
terdapat
beberapa macam metode penelitian bahasa. Dala buku tersebut adalah Teknik Sadap. Pada prakteknya, penyimakan atau metode simak
itu diwujudkan dengan penyadapan. Si peneliti untuk mendapatkan data
pertama-tama dengan segenap kecerdikan dan kemauannya harus menyadap
pembicaraan seseorang atau beberapa orang. Dalam teknik ini, saya menyadap
berta atau inormasi dari internet dan menemukan berita dengan judul diatas.
Dalam metode ini juga
terdapat teknik lanjutan, dan teknik lanjutan
yang saya gunakan yakni: (a) Teknik Simak Bebas Libat Cakap,
(b) Teknik Catat. Dalam TSBLC, saya mengaplikasikannya dengan membaca berita
tersebut dan menyimak isi dari berita tersebut, kemudian mencatat berita
tersebut sesuai dengan metode catat. Metode ini merupakan metode yang saya
gunakan untuk mendapat data. Sedangkan untuk menganalisi data, saya menggunakan
metode bagi unsur langsung atau metode agih yang biasanya diterangkan oleh Bu
Asrumi.
3.
HASIL
PENELITIAN
Setelah melakukan penelitian, dan melkaukan analisis
data, ditemukan data-data sebagai berikut:
3.1
Perngertian
Frasa dan Klausa
Pengertian Frasa
Sering dipermasalahkan
antara frasa dengan kata, ada yang membedakannya dan ada juga yang mengatakan
bahwa keduanya itu sama. Seperti yang telah dipelajari dalam morfologi bahwa
kata adalah satuan gramatis yang masih
bisa dibagi menjadi bagian yang lebih kecil. Frasa adalah satuan konstruksi
yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan (Keraf,
1984:138). Frasa juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa
gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata
yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1991:222).
Menurut Prof. M. Ramlan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu
kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan (Ramlan, 2001:139).
Artinya sebanyak apapun kata tersebut asal tidak melebihi jabatannya sebagai
Subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan, maka masih bisa
disebut frasa.
Jenis Frasa
Jenis frasa
dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan persamaan distribusi dengan unsurnya
(pemadunya) dan berdasarkan kategori kata yang menjadi unsur pusatnya.
a.
Berdasarkan
persamaan distribusi dengan unsurnya (pemadunya, frasa dibagi menjadi dua,
yaitu Frasa Endosentris, kedudukan frasa ini dalam fungsi tertentu, dpat
digantikan oleh unsurnya, unsur frasa yang dapat menggantikan frasa itu dalam fungsi tertentu yang
disebut unsur pusat (UP) dan Frasa Eksosentris, adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi
dengan unsurnya. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frasa eksosentris
adalah frasa yang tidak mempunyai UP.
b.
Berdasarkan
kategori kata yang menjadi unsur pusatnya, frasa dibagi menjadi enam. (1) Frasa nomina,
frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori nomina. (2) Frasa Verba,
frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori verba. (3) Frasa Ajektifa,
frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori ajektifa. (4) Frasa
Numeralia, frasa yang UP-nya berupa kata yang termasuk kategori numeralia.
Yaitu kata-kata yang secara semantis mengatakan bilangan atau jumlah tertentu. (5) Frasa
Preposisi, frasa yang ditandai adanya preposisi atau kata depan sebagai penanda
dan diikuti kata atau kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda. Dan (6) Frasa
Konjungsi, frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata sambung sebagai
penanda dan diikuti klausa sebagai petanda. Karena penanda klausa adalah
predikat, maka petanda dalam frasa konjungsi selalu mempunyai predikat.
Pengertian Klausa
Klausa ialah
satuan gramatikal, berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari
subjek (S) dan predikat (P), dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat
(Kridalaksana dkk, 1980:208). Klausa ialah unsur kalimat, karena sebagian besar
kalimat terdiri dari dua unsur klausa (Rusmaji, 113). Unsur inti klausa adalah
S dan P. Namun demikian, S juga sering juga dibuangkan, misalnya dalam kalimat
luas sebagai akibat dari penggabungan klausa, dan kalimat jawaban (Ramlan,
1981:62.
c.
Dari definisi
tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa klausa adalah satuan gramatik yang
terdiri atas predikat, baik diikuti oleh subjek, objek, pelengkap, keterangan
atau tidak dan merupakan bagian dari kalimat. Penanda klausa adalah P, tetapi
yang menjadi klausa bukan hanya P, jika mempunyai S, klausa terdiri atas S dan
P. Jika mempunyai S, klausa terdiri dari atas S, P, dan O. jika tidak memiliki
O dan Ket, klausa terdiri atas P, O, dan Ket. Demikian seterusnya.Penanda
klausa adalah P, tetapi yang dianggap sebagai unsure inti klausa adalah S dan
P. Penanda klausa adalah P, tetapi dalam realisasinya P
itu bias juga tidak muncul misalnya dalam kalimta jawaban atau dalam bahasa
Indonesia lisan tidak resmi.
d.
Klausa merupakan bagian dari kalimat. Oleh karena itu, klausa bukan
kalimat. Klausa belum mempunyai intonasi lengkap. Sementara itu kalimat sudah
mempunyai intonasi lengkap yang ditandai dengan adanya kesenyapan awal dan
kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut sudah selesai. Kalimat
sudah pasti mempunyai P, sedangkan klausa belum tentu mempunya. Jenisnya sendiri dalam klausa
memiliki dua jenis yakni klausa terbuka dan klausa tertutup.
3.2
Analisis
Data
Kpk Hat-trick Tangkap
Gubernur Riau
Jawa
Pos, Jumat 26 September 2014
Daftar
kepala daerah yang terjerat korupsi makin bertambah. Gubenur Riau H Annas
Maamun ditangkap KPK lantaran diduga hendak melakukan penyuapan. Annas
diamankan bersama delapan orang lainya dengan barang bukti uang dalam jumlah
miliaran. Diduga uang itu hendak digunakan untuk mengurus perkara yang tengah
menjerat Annas.
Juru Bicara KPK Johan
Budi membenarkan bahwa intansinya melakukan operasi tangkap tangan (OTT) dan
mengamankan seorang gubernur. Namun, Johan tak mau menyebut identitas gubernur
itu karena kasus tersebut masih diperiksa. “Benar terjadi OTT sekitar pukul
17.30. Dari operasi itu, diamankan sembilan orang di sebuah rumah di kawasan Citra
Grand Cibubur,” ujar Johan.
1.
Daftar kepala daerah
yang terjerat korupsi makin bertambah.
a. Jenis
kalimat (tunggal atau majemuk)
Kalimat tersebut merupakan kalimat
tunggal, karena dalam kalimat tersebut terdiri atas S dan P saja.
·
Daftar kepala daerah
yang terjerat korupsi makin bertambah.
S P
b. Jumlah
klausa
Kalimat tersebut terdiri atas 1 klausa.
·
daftar kepala daerah
yang terjerat korupsi makin bertambah
S P
c. Jenis
klausa
·
daftar kepala daerah
yang terjerat korupsi makin bertambah
(klausa terbuka)
S P
d. Jenis
kalimat berdasarkan verba (pengisi predikat)
·
Daftar kepala daerah
yang terjerat korupsi makin bertambah.
(intransitif)
S P
2.
Gubenur Riau H Annas
Maamun ditangkap KPK lantaran diduga hendak melakukan penyuapan.
a. Jenis
kalimat ( majemuk)
Kalimat tersebut merupakan kalimat
majemuk setera, dengan kata hubung lantaran yang bermakna “sebab”.
·
Gubenur Riau H Annas
Maamun ditangkap KPK lantaran
diduga hendak
S P PEL P
melakukan
penyuapan.
O
b. Jumlah
klausa
Terdapat 2 klausa dalam kalimat
tersebut, yaitu:
·
Gubernur Riau H Annas
Maamun ditangkap KPK
S P PEL
·
Gubernur Riau H Annas
Maamun diduga hendak melakukan penyuapan
S P O
c. Jenis
klausa
·
Gubernur Riau H Annas
Maamun ditangkap KPK (klausa
terbuka)
S P PEL
·
Gubernur Riau H Annas
Maamun diduga hendak melakukan penyuapan
S P O
(klausa terbuka)
d. Jenis
kalimat berdasarkan verba (pengisi predikat)
·
Gubernur Riau H Annas
Maamun ditangkap KPK. (intransitif)
S O PEL
·
Gubernur Riau H Annas Maamun
diduga hendak melakukan penyuapan.
S P O
(transitif)
3.
Annas diamankan bersama
delapan orang lainya dengan barang bukti uang dalam jumlah miliaran.
a. Jenis
kalimat (tunggal atau majemuk)
Kalimat tersebut merupakan kalimat
tunggal.
·
Annas
diamankan bersama delapan orang lainya dengan barang bukti
uang
S P PEL Ket.
dalam jumlah miliaran.
b. Jumlah
klausa
Kalimat tersebut memiliki 1 klausa.
·
Annas
diamankan bersama delapan orang lainya dengan barang bukti
uang
S P PEL Ket.
dalam jumlah miliaran
c. Jenis
klausa
·
Annas
diamankan bersama delapan orang lainya dengan barang bukti
uang
S P PEL Ket.
dalam jumlah miliaran
(klausa terbuka)
d. Jenis
kalimat berdasarkan verba (pengisi predikat)
·
Annas
diamankan bersama delapan orang lainya dengan barang bukti
uang
S P PEL Ket.
dalam jumlah miliaran.
(intransitif)
4.
Diduga uang itu hendak
digunakan untuk mengurus perkara yang tengah menjerat Annas.
a. Jenis
kalimat (tunggal atau majemuk)
Kalimat tersebut merupakan kalimat
majemuk bertingkat.
·
Diduga uang itu
hendak digunakan untuk mengurus perkara yang tengah
S P PEL
menjerat
Annas
P O
b. Jumlah
klausa
Terdiri atas 2 kalusa
·
diduga uang itu
hendak digunakan untuk mengurus perkara yang tengah
S P PEL
menjerat
Annas
P O
c. Jenis
klausa
·
diduga uang itu
hendak digunakan untuk mengurus perkara(klausa tertutup)
S P PEL
·
tengah menjerat
Annas (klausa tertutup)
P O
d. Jenis
kalimat berdasarkan verba (pengisi predikat)
·
Diduga uang itu
hendak digunakan untuk mengurus perkara (intransitif)
S P PEL
·
tengah menjerat
Annas (transitif)
P O
5.
Juru Bicara KPK Johan
Budi membenarkan bahwa intansinya melakukan operasi tangkap tangan (OTT) dan
mengamankan seorang gubernur.
a. Jenis
kalimat (tunggal atau majemuk)
Kalimat tersebut terdiri atas kalimat
majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat, atau dapat disebut dengan
kalimat majemuk campuran.
·
Juru Bicara KPK Johan
Budi membenarkan bahwa intansinya
melakukan
S P
operasi tangkap tangan (OTT) dan
mengamankan seorang gubernur.
O
(kalimat majemuk bertingkat)
·
Intansinya
melakukan operasi tangkap tangan (OTT) dan mengamankan
S P O P
seorang gubernur.
(kalimat majemuk setara)
O
b. Jumlah
klausa
Dalam kalimat tersebut terdapat 3
klausa, yaitu:
·
Juru Bicara KPK Johan
Budi membenarkan
S P
·
intansinya
melakukan operasi tangkap tangan (OTT)
S P O
·
intansinya
mengamankan seorang gubernur
S P O
c. Jenis
klausa
·
Juru Bicara KPK Johan
Budi membenarkan (klausa tertutup)
S P
·
intansinya
melakukan operasi tangkap tangan (OTT) (klausa terbuka)
S P O
·
intansinya
mengamankan seorang gubernur
(klausa terbuka)
S P O
d. Jenis
kalimat berdasarkan verba (pengisi predikat)
·
Juru Bicara KPK Johan
Budi membenarkan. (transitif)
S P
·
Intansinya
melakukan operasi tangkap tangan (OTT). (transitif)
S P O
·
Intansinya
mengamankan seorang gubernur.
(transitif)
S P O
6.
Namun, Johan tak mau
menyebut identitas gubernur itu karena kasus tersebut masih diperiksa.
a. Jenis
kalimat (tunggal atau majemuk)
Kalimat tersebut merupakan kalimat
majemuk setara dengan kata hubung karena.
·
Johan
tak mau menyebut identitas gubernur itu karena kasus
tersebut masih
S P O S
diperiksa.
P
b. Jumlah
klausa
Dalam kalimat tersebut terdapat 2
klausa, yaitu:
·
Johan
tak mau menyebut identitas gubernur itu
S P O
·
kasus tersebut
masih diperiksa
S P
c. Jenis
klausa
·
Johan
tak mau menyebut identitas gubernur itu (klausa terbuka)
S P O
·
kasus tersebut
masih diperiksa (klausa
terbuka)
S P
d. Jenis
kalimat berdasarkan verba (pengisi predikat)
·
Johan
tak mau menyebut identitas gubernur itu (transitif)
S P O
·
kasus tersebut
masih diperiksa (intransitif)
S P
7.
“Benar terjadi OTT sekitar pukul 17.30.
a. Jenis
kalimat (tunggal atau majemuk)
Kalimat tersebut merupakan kalimat minor
karena tidak ada S dan P.
·
Benar terjadi OTT
sekitar pukul 17.30.
O Ket.
b. Jumlah
klausa
-
c. Jenis
klausa
-
d. Jenis
kalimat berdasarkan verba (pengisi predikat)
-
8.
Dari operasi itu,
diamankan sembilan orang di sebuah rumah di kawasan Citra Grand Cibubur,” ujar
Johan.
a. Jenis
kalimat (tunggal atau majemuk)
Kalimat tersebut merupakan kalimat
majemuk bertingkat.
·
Dari operasi itu,
diamankan sembilan orang di sebuah rumah di kawasan Citra
S
Grand Cibubur,”
ujar Johan.
P PEL
·
Dari operasi itu,
diamankan sembilan orang di sebuah rumah di kawasan Citra
S P PEL Ket.
Grand Cibubur,”
b. Jumlah
klausa
Kalimat tersebut terdiri dari 2 klausa,
yaitu:
·
dari operasi itu,
diamankan sembilan orang di sebuah rumah di kawasan Citra
S
Grand Cibubur,”
ujar Johan
P PEL
·
dari operasi itu,
diamankan sembilan orang di sebuah rumah di kawasan Citra
S P PEL Ket.
Grand Cibubur
c. Jenis
klausa
·
dari operasi itu,
diamankan sembilan orang di sebuah rumah di kawasan Citra
S
Grand Cibubur,”
ujar Johan (klausa tertutup)
P PEL
·
dari operasi itu,
diamankan sembilan orang di sebuah rumah di kawasan Citra
S P PEL Ket.
Grand Cibubur
(klausa terbuka)
d. Jenis
kalimat berdasarkan verba (pengisi predikat)
·
Dari operasi itu,
diamankan sembilan orang di sebuah rumah di kawasan Citra
S
Grand Cibubur,”
ujar Johan. (intransitif)
P PEL
·
Dari operasi itu,
diamankan sembilan orang di sebuah rumah di kawasan Citra
S P PEL Ket.
Grand Cibubur,”
(transitif)
Kesimpulan
Sintaksis merupakan salah satu cabang dari ilmu
kebahasaan. Sintaksis membahas tentang kata, frasa, klausa, kalimat, sampai
wacana, dimana kajian terkecilnya merupakan kata dan kajian terbesarnya adalah
klausa. Dalam anaisis ini, mengkaji tentang klausa dalam artikel koran yang berjurul
“Kpk Hat-Trick Tangkap Gubernur Riau”, Jawa Pos 26 September 2014. Klausa sendiri merupakan
gabungan antara dua kala atau lebih yang memiliki unsur predikat didalamnya. Pada
artikel ini dapat disimpulkan bahwa klausa yang ada didalamnya merupakan
kalimat tunggal, dan jenis klausanya terbuka.
DAFTAR PUSTAKA
Ramlan. 1996. SINTAKSIS.
Yogyakarta: C.V Karyono
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik
Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar